Tampilkan postingan dengan label By Nurmiati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label By Nurmiati. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2014

Guru SM3T, pembawa perubahan

Kehadiran guru SM3T bukan hanya sekedar mengajar di sekolah, namun diharapkan dapat membuat perubahan lain yang lebih baik. Itulah yang juga kami harapkan sebagi peserta SM3T, meskipun tak bisa membawa perubahan yang besar namun kami akan selalu berusaha menjalankan tugas dengan baik, melakukan banyak hal agar mutu pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, khususnya di bagian timur negeri ini, Papua yang dikenal dengan mutu pendidikan yang rendah.

Contohnya pada minggu pertama kami berada di SD Inpres Isiama, Distrik Kurulu Jayawijaya. Saya dan teman saya Wira Sitorus, benar-benar mamaksimalkan penilaian keadaan agar mampu membuat perencanaan hal-hal yang perlu dan sangat penting di lakukan.

Salah satu hal yang kami lakukan adalah penataan ulang ruang kantor dan buku - buku yang menurut informasi dari guru maupun kepala sekolah, bahwa buku-buku ini belum pernah di susun dengan baik sejak penerimaan.

Sebenernya saya bersyukur karena di sekolah ini masih ada buku yang bisa digunakan, jujur keadaan buku ini masih baru, meskipun masih banyak juga yang buku terbitan lama. Bahkan saya mendapatkan buku tahun 1980-an.


Buku-buku yang tidak pernah tersusun baik sejak diperoleh.

Keadaan awal buku -buku

Proses pemilahan berdasarkan kelas dan mata pelajaran

Proses penyusunan ulang di lemari berdasarkan kelas dan mata pelajaran


Buku yang sudah disusun rapi

Meja dan buku - buku harus tersusun beraturan :)

Ayo disusun rapi ya :)

Semangat untuk menata kembali ruangan kantor dan segala sesuatu di dalamnya.

Rapi dan bersih itu lebih baik :)

Kamis, 13 November 2014

Semangat sayang, bisu bukan berarti berbeda.

Anak Ini bisu


Anak ini bisu...

Meskipun dia tak bisa berbicara padaku, tadi selalu senyum setiap bertemu pandang atau berpapasan denganku.

Aku baru tau kalau dia bisu pas genap sebulan di sini. Pantas saja, saat aku mengajar di kelasnya dia tidak ikut bernyanyi atau menyebut huruf-huruf. Hanya rajin mencatat dan setia mendengarkan.

Dia tidak memiliki seragam sekolah. Selama lebih 2 bulan di sini, tak sekali saja aku melihatnya menggunakan baju putih, baju pramuka. Hanya pernah melihatnya menggunakan rok merah, itupun bekas siapa gitu menurutku. Roknya bergetah, resliting yang rusak dan longgar dipinggangnya sehingga menggunakan peniti.

Kakinya sama halnya dengan anak yang lain. Hitam sekali karena tidak menggunakan sepatu ataupun sandal. Wajah dan bagian tubuhnya yang lain lebih bersih dari anak lain, dia juga tak ingusan seperti kebanyakan anak di sini. Tapi sayang dia belum memotong kuku tangannya sama seperti anak lain, padahal aku sudah setiap hari mengingatkan mereka ketika berbaris rapi di halaman.

Sabtu kemarin, tumben sekali dia bermain di sekolah. Nah, saat aku di ruang kelas 5 (sore) mencari suasana sunyi mengerjakan laporan pengabdian. Dia datang mendekat. Saat kulihatkan foto2 selama kegiatanku disekolah ini. Dia terlihat begitu senang, sesekali tertawa dan tersipu malu mendapati ada foto dirinya di antara siswa lain.

Bicara tentang seragam dan perlengkapan sekolah lainya. Banyak sekali kekurangannya. Bahkan pertama kali mengajar di sini, aku sering mendapat keluhan mereka yang tak punya pulpen. Buku hanya punya 1 dan buku itu lusuh. Sekarang sedikit membaik terutama kelas 5. Tapi, tetap saja mereka masih butuh perhatian.

Yah. Meskipun aku berprinsip kalau mereka boleh belajar bagaimanapun keadaanya. Setidaknya saat ini yang kutanamkan dalam hati dan benak mereka, bahwa mereka punya hak yang sama untuk belajar dan punya masa depan yang cerah. Punya kehidupan yang lebih baik.

Murid-muridku, anak-anak harapan bangsaku. Terima kasih karena sudah semakin rajin ke sekolah. Terima kasih karena ingin terus belajar dan belajar. Tak perduli apa kata mereka tentang dirimu dan kehidupanmu. Majulah sayang, jangan berhenti karena keadaan. Melangkahlah sayang, jalanmu masih panjang, tak perduli berkelok kerikil atau duri, lewati saja dengan tekat dan senyum.

Murid-muridku, anak-anak kebanggaanku. Terima kasih karena selalu menginginkanku mengjawab keingin tahuanmu. Kelak kau akan mengerti, aku hanya bagian yang tiada apa-apanya di dunia ini. Belajarlah sayang, belajarlah terus dan kau akan tau. Tau betapa istimewanya pengetahuan.

Kamis, 06 November 2014

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1436 H

24.10.2014
"Alhamdulillah, rejeki..."


25.10.2014
-Diadakah oleh Yayasan Yapis-
Jalan santai, pukul 07:00 Sampai 09:00
Kupon sampe 2000, tapi masih banyak yang gak dapat kupon.
Kalau ngomong hadiah. Mereka hadiahnya sederhana aja. Kaya gula, tepung, rinso, minyak tanah, jam, seprai, dll. Tapi jumlahnya banyak...
Lalu ada lomba-lomba untuk anak. Makan kerupuk, cari permen di tepung, futsal anak-anak.
Ada donor darah, pengobatan gratis, dll

Bersama Teman-teman di Walesi

26.10.2014
Tampak Walesi dari atas. Walesi terdapat kampung islam.
Disebut begitu kerena walesi terdapat lebih banyak muslim. Yang ada mesjid hanya di kota, distrik Asolokobal, dan Walesi.
Di Walesi terdapat pesantren Al-Istiqomah.
Oia, bunga yang saya genggam tumbuh di bukit yang tinggi. Sebelum bukit tempat saya berdiri, bukit sebelumnya tak ada bunga ini, namun di sanalah bendera merah putih ada berkibar.

Sedikit informasi, dari puncak ini juga dapat terlihat kota Wamena secara keseluruhan.

25.10.2014
Menuju air terjun. Melewati pinggiran sungai, batu-batu, lalu lewat sungai yang berarus deras dan berbatu-batu besar. Foto : Ellen - Ochi - Muti - Me (Nurmi)
27.10.2014 (Inggar and Me)
"Selamat datang di pondok pesantren Al-istiqomah Wamena, desa Walesi, Kabupaten Jayawijaya Papua"





Kebun

Bapak guru (Weki) sedang mengawasi kerja siswa/i

#SM3T
#Sesi.Curcol (23.10.2014)
#SD Inpres Isaima, Wamena -Jayawijaya

Pagi cerah seperti biasa, tapi kabut tak begitu tebal membuatku lebih bersemangat. Mencuci, mandi, sarapan. Pukul 8 kurang 20 menit, aku duduk di ruangan depan sambil menatap ke arah anak-anak yang asik bermain karet di sekitar sekolah. Dari arah kiri jalan, terlihat beberapa anak lain berlari memasuki lingkungan sekolah. Wajahceria mereka, tawa mereka yang keras, sesekali berbahasa ibu (bahasa daerah), berlari sana-sini tanpa alas kaki, tingkah yang membuatku senyum di pagi hari. Meskipun aku tak mengerti bahasa mereka, aku merasa senang saat melihat mereka bercanda. Aku hanya menerka-nerka lewat bahasa tubuh mereka. Ah, pemandangan pagi yang membuatku menyadari sesuatu. Apa itu? Pikirkan sendiri!

Jika biasanya anak-anak sekolah di SD ini masuk kelas tanpa jadwal, bahkan sering jam 10 lalu pulang jam 11. Kini mereka lebih teratur masuk pukul 8. Heran saya, guru-guru itu jarang sekali membunyikan bel.
---
"Okey. Aku duluan ya ibu Nurmi." Senyum Wira lalu berbalik, melangkah santai menuju sekolah.

"Sipp bu... Sebentar aku nyusul." Aku masuk kamar mengambil topi, kamera, hp, dan kaos kaki. Mengunci jendela, menutup gorden lalu mengunci pintu kamar.

Duduk di pintu rumah sambil mengikat tali sepatu. Ku dengar kawanku mulai mengawasi proses olahraga bersama.

1 2 3...8
1 2 3...8

Suara-suara keras itu membuatku semakin semangat.

"Pagi." Sapaku saat melewati 3 bapak guru yang sedang duduk santai di depan kantor.
---
Wira pagi ini terlihat bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena hari ini ulang tahun Mamanya. Bisa jadi. Saat dia menatapku memberi kode, aku tersenyum dan mengangkat tangan kanan menunjukan kamera yang ku genggam. Wira paham, aku mempersilahkannya meneruskan semaunya, hari ini aku ingin menghemat suara dan memilih untuk menjadi seksi dokumentasi.

Kegiatan hari ini sama ramainya dengan 7 minggu yang sudah berlalu, yang berbeda ada banyak lelucon yang tercipta. Ibu Wira jadi lebih humoris, selain itu dia memberikan beberapa perintah tak terduga. Anak-anak menjadi tertawa lepas. Oh, aku juga tak bisa menahan tawa. Terlepas dari segala embel-embel canda, olahraga hari ini lebih baik dari biasanya. Tak perduli panas terik, kami bergerak hingga berkeringat, lalu duduk diruput halaman sekolah.

Pukul 8:45. Anak-anak kami bubarkan, mereka mulai berhambur ke kelas masing-masing. Tapi, suara keras teman yang lain memanggil membuat mereka saling berdebat satu sama lain. Ada yang ingin menuruti ada yang ingin tetap ke kelas.

Aku terdiam, berdiri di depan kelas 3 menunggu. Anak-anak itu mulai berbaris di depan kantor. Sebagian murid kelas 5 masih berdiri bingung. Saat mereka menatapku, aku tersenyum lalu bilang 'Gak papa toh. Ibu guru tunggu'. Mereka ikut berbaris. Aku melihat sebentar ke arah mereka, lalu fokus dengan ponselku.

"Kelas 5 dan 6 kembali ke kelas sudah." Suara memerintah itu membuatku sontak menoleh. Ku lihat muridku bingung dan masih di tempat.

"Dengar tidak? Kelas 5 6 kembali ke kelas." Pak guru membentak, aku tak ingin ambil pusing karena setidaknya diam lebih baik, aku melangkah menuju ruangan kelas 5. Ku dengar ia masih terus berbahasa daerah dengan anak-anak itu. Lagi-lagi aku hanya menerka artinya. 'Kasihan anak-anakku' itu yang terpikirkan olehku.
---
Aku masuk ke kelas. Murid-muridku mengekorku. Duduk rapi.
"Paska. Berdoa boleh!"
Mereka mulai berdoa dan mengucapkan selamat pagi padaku. Aku menjawab seperti biasa lalu tersenyum lebih lama menatap ke arah mereka.

"Bapak guru marah?" Tanyaku, tak ada jawaban, mereka hanya menunduk, beberapa sibuk mengeluarkan buku.

"Tresia. Hari ini ibu mau santai. Tak menulis sehari tidak papa toh?" Kalimat tanya yang bertujuan perintah memasukkan kembali buku dimengerti dengan cepat oleh muridku.

"Bapak guru bicara apa? Ibu tidak tau bahasa ibu, jadi dengar juga tidak tau." Aku tak bermaksud membuat mereka malu karena di marahi, tak juga memaksa mereka berbicara. Aku hanya tak tau harus memulai dengan kalimat apa pagi ini. Beberapa detik aku terdiam, mereka masih belum ada yang menjawab.

"Bawa bunga sama batunya?" Tanyaku berpura-pura untuk mengalihkan perhatian mereka. Aku sudah pasti melihat bunga-bunga dan batu-batu besar di atas meja mereka.

"Ada tidak bawa bunga ini bu guru." Mereka kembali bersemangat.

"Tak apa toh kalau tidak bawa bunga tapi masih bawa batu." Semua mengiyakan.
"Yang belum kumpul buku kosong silahkan kumpul di sini." Aku menyentuh ujung kanan mejaku.
"Lalu, bunganya di sini." Lanjutku menyentuh bagian kiri mejaku. Satu persatu mereka maju.

Tok tok

Temanku mengintip di pintu sambil mengetuk. Wira, memanggil keluar dengan isyarat tangan. Tumben, pikirku.
---
"Kenapa neng?" Tanyaku to the point karena ekspresi kecewa di wajahnya.

"Tadi kan itu si bapak Weki pas barisin anak-anak pake bahasa ibu. Nah, si Dorkas (siswa kelas 6) bilang. Kalau bapak Weki gak suka kita buat anak-anak kaya tadi."

"Tadi kayanya mukanya emang lagi serem." Tanggapku bercanda tapi serius.

"Iya. Katanya kita ngabisin waktu sampe jam 9, terus anak-anak gak belajar. Jadinya dia bilang anak-anak itu gak usah belajar sudah."

"Kok gitu sih. Kan sudah dari awal kita buat anak-anak begini, bisanya kita jadi kambing hitam."

"Nah. Iya makanya itu. Tu, lihat anak-anak cuma mainan aja. Gak sadar apa mereka itu, biasanya mereka sengaja lama-lama di kantor, kalau gak kita yang bunyikan bel gak masuk anak-anak. Kalau ngajar juga sebentar aja, terus keluar duduk-duduk sambil ceritaan. Kadang anak-anak dipulangkan cepat. Huh,"

"Mau gimana lagi kita gak bisa maksa sesuatu berubah toh. Dulu kita punya harapan besar karena melihat sifat terbuka mereka. Lah, sekarang kita tau semua belangnya."

"Makanya itu. Susah sekali mereka itu. Maunya banyak tapi kerjanya, ya ampun susahnya."

"Sudahlah biarin aja. Biar aja dia berkembang. Kita lakukan aja tugas kita semampunya."
---
Lima menit percakapan itu, aku membali ke ke dalam kelas. Murid-muridku semua diam, kurasa dia tak mendengarkan apa yang kami bicarakan karena suara kecil kami. Mereka menungguku, jika biasanya mereka sudah mengambil buku dan membaca ketika menunggu, kali ini tidak karena pemberitahuanku di awal tadi tentang kegiatan hari ini.

"Kita tak perlu olahraga tambahan lagi ya. Kita langsung buat taman saja. Paska sama Frans bawa parang?"

Kami keluar kelas, masing-masing bawa batu dan bunga. Rumput di depan kelas dibabat, batu di susun membantuk garis seperti pagar, bunga di tanam, lalu di siram. Di sela-sela kegiatan kawanku datang lagi.

"Ih, bagusnya." Pujinya membuat murid-muridku senang. Lalu pandangannya tertuju ke anak-anak kelas 4 yang membawa papan.

"Sabar neng." Ucapku tiba-tiba mengingatkan. Aku tersenyum.

"Iya. Kasian aja." Tanggapnya, lalu kembali ke kelas 6.

Anak-anak kelas 4 itu membawa papan lebih dari 300meter ke rumah di seberang jalan di depan sekolah. Papan untuk pembangunan sekolah paket, yang menyuruh pak Weki. Ini bukan pertama kalinya anak-anak ini diperlakukan seperti ini. Membawa kayu bakar, menimbah air, ini dan itu. Dan hari sabtu malah di suruh bawa peralatan berkebun. Gagal sudah rencanaku untuk mengajarkan banyak hal di hari sabtu, huh. Selama dua bulan di sini hanya 2 sabtu aku pernah mengajarkan upacar bendera, hanya sekali aku mengajarkan seni budaya.
---
Kebun di belakang sekolah, awalnya akulah yang punya ide. Aku dan anak-anak akan menanam sayuran dan tanaman toga. Jika sayuran di jual kami bisa membeli perlengkapan bersama. Dua minggu kami membersihkan, minggu berikutnya, dia malah mengambil alih. Alasannya mau bantu, lalu jadi bagi wilayah kebun, lalu sekarang terkesan menguasai. Okey, aku lepas tangan. Ambil! Semuanya.

Awal-awal, baik. Baik banget. Bicaranya begini-begitu sederhana dan rendah diri. Ujung-ujungnya kelihatan belangnya. Huh, kesal sih, tapi ya sabar aja sih.

Gak cuma itu. Pernah, kata usir terlontar dari mulutnya. Sore itu, Wira sedang sibuk memasak. Aku tiba-tiba terpikirkan lagi tentang gorden kamar yang transparan. Setuju denganku dan sepakat Wira menyuruhku menukar gorden di ruang tamu. Aku hampir terjatuh ketika suara keras di depan pintu kamar marah-marah. Tanpa bicara banyak aku melewatinya dan memasang kembali sesuai posisi awal. Dia mengekor, berbicara ini itu lebih pelan lalu ingin membantuku memasang. Tapi, aku tak tahan dengan wajah ekting itu.

"Tidak usah pak. Saya saja, bisa! Jika bapak mau kami pergi dari sini. Silahkan laporkan ke kepala sekolah dan dinas pendidikan. Kami siap kok di tari secepatnya." Suaraku pelan dan santai tapi di dalamnya penuh emosi.

"Bukan begitu ibu guru . . . bla bla bla." Berdiri di ujung kursi satunya membenarkan ikatan.

"Kan kami sudah bilang soal gorden minggu lalu bapak!"

"Iya pasang di dalam sudah." Melepas ikatan kembali sambil menatapku

"Tidak usah bapak. Nanti kami bilang kepala sekolah saja atau beli yang baru!" aku tak menoleh sedikitpun. Lalu berterima kasih setelah selesai memasang, kembali ke kamar. Malamnya istrinya, Maria meminta maaf pada kami dan bilang suaminya memang tempramen. Hah? Tetap saja kejadian ini menyadarkan banyak hal dan mengubah sesuatu.

Belakangan, dia bercerita ini itu tentang kami pada masyarakat (menurut cerita muridku). Tapi biar sajalah, aku tak perduli lagi, yang penting aku tak melakukan hal yang merugikan masyarakat di sini. Jika memang ia memanfaatkan keberadaanku dan kawanku di sini, terserah. Jelas kalau tuntutanya terhadap sekolah yang berlebihan tak mungkin terkabulkan. Mustahil guru bantu mendapat gaji sebesar itu, minta 5kali lipat, harusnya dia sadar bahwa dia bukan dari jurusan pendidikan, lama pengabdiannya tak bisa memaksa untuk dijamin pns, sikap irinya yang besar membuatnya buta akan tujuan utama seorang guru.

Harusnya dia bersyukur dibiarkan tinggal di perumahan sekolah, lalu diberi gaji di atas rata-rata. Ya, itulah sulitnya jika ego telah menguasai.

Banyak lagi hal yang membuatnya terlihat semakin menyeramkan, membuatku acuh. Lalu memandang satu arah, mengajar muridku semaksimal mungkin agar mereka tak menjadi sosok itu. Membuat murid-muridku tak takut padanya, membuat muridku tak di manfaatkan lebih lagi. Ah, sepertinya sulit, namun kan ku coba lagi dan lagi


---
FB Nurmie

Pelangi Sore

16092014
#Pelangi sore

Meskipun hujan, di luar sana panas dan awan putih masih tebal.

Aku mengintip dari balik jendela. Suara-suara anak itu mengagetkanku.

"Ibu guru..." teriaknya dari belakang kantor. Aku hanya mengangkat tangan sebagai jawaban. Mereka, 3 anak SMP yang sedang berteduh di SD INP Isaima.

Aku kembali fokus pada ponselku, sibuk berdiskusi dengan teman-teman SM3T di BBM.

"Dah ibu guru." teriak mereka sambil melambaikan tangan. Lagi-lagi aku kaget dan hanya melambaikan tangan pada mereka yang selitar 20 meter dari rumah dinasku.

***
Hujan berhenti, aku berharap anak-anak kelas lima tak memaksakan diri datang les hari ini, aku memaklumi karena hari seluruh warga berduka atas kepergian kepala suku panglima perang.

Aku membuka gorden dan kembali duduk di bangku kayu dari sekolah. Sesekali memperhatikan ke pagar sekolah. Pukul 15:20 ada anak kecil bersama kakaknya bermain di sekitar sekolah. 5 menit kemudian seorang lagi berlari dan semakin banyak anak. Aku tersenyum senang tapi tak beranjak dari duduk.

Ku perhatikan anak-anak itu yang begitu ribut berbahasa ibu, bermain lompat tali dan bermain karet. Aku berpikir keras bagaimana bisa aku mengajar sesuai rencana jika murid bervariasi begini. Karena kemarin aku sudah mengajar 3 kelas golongan (mengenal huruf, mengeja, membaca), aku ingin fokus ke kelas 5.

Aku mengambil kunci kantor dan ruang-ruang kelas yang tergantung menjadi satu. Lalu melangkah berjinjit menuju mereka.

"Sore ibu guru."

"Sore." Jawabku duduk berjongkok di dekat dinding. Aku membiarkan mereka tetap bermain.

Lama berpikir aku memberikan pilihan pada mereka. "Ingin mau main atau belajar?" Semua diam berpikir.

"Kelas lima ada berapa? Yang Huma di Wosi siapa?"

6 orang kelas 5 mengangkat tangan dan setengah dari keseluruhan anak dari Wosi. "Siapa mau main?" Tidak ada yang menjawab lagi. "Siapa mau belajar?" tanyaku lagi.

"Saya ibu." suara seorang kelas 6 terdengar berteriak, namun dibantah oleh kelas 5 yang bernama Paska.

"Ya sudah. Kalian main saja ya, ibu menonton. Jadi sia-sia jalan kaki jauh-jauh datang dari Wosi." Ungkapku santai sambil senyum-senyum.

"Saya mau belajar ibu." Kata Mepia

"Saya juga." Kata Romina.

"Saya juga"

"Saya juga."

"Bagaiman ini Paska? Yang lain mau belajar."

"Saya juga mau." jawabnya tertunduk.

"Jadi kelas berapa yang mau balajar?"

"Semua ibu..." teriak mereka semua.

Aku menyuruh Paska membuka kantor dan mengambil kapur di atas mejaku. Anak-anak yang lain berkumpul di depan pintu kelas 4, tidak sabar ingin masuk kelas.

"Paska, kunci. Cepat." Teriak Edius.

"Hem..." tegurku.

"Maaf ibu."

"Ibu ada pelangi." tunjuk Edius. Aku melihat 2 pelangi membentang indah, pelangi bagian atas yang mulai menghilang.

"Ibu tidak foto." Mendengar saran itu membuatku tersenyum malu. Rupannya muridku sudah hapal kebiasaanku memotret pemandangan alam atau apa saja yang menurutku bagus. Aku mngeluarkan ponsel dan mengabadikan pelangi sore yang ke 4 ku saksikan selama 20 hari aku di Papua.

---
FB Nurmie

Sisilia

Sisilia Walela. 11 September 1997. Kelas 5 SD INP Isaima
#SM3T - Nurmiati, S. Pd
#SD Inpres Isaima

"Sisilia sering bantu mama?"
Aku tersentak. Pertanyaan ibu guru tentang kehidupan sehari-hari kami memang sering terlontar begitu saja. Tapi, aku tak tau harus menjawab apa. Aku takut ibu guru marah nanti.

"Sisilia melamun?"
Suara ibu guru terdengar lagi, suara tak marah itu membuatku bersalah. Ibu guru tak menatapku, ibu guru sibuk memeriksa tugas kami. Teman-teman menatapku lalu sibuk membaca buku masing-masing lagi. Aku masih diam.

"Kalian boleh bantu mama tidak?"

"Boleh kata ibu guru, tapi harus izin dulu." Jawab murid lain.

"Iya. Tapi sisilia punya Alpa sudah 7. Bagaimana ini?"

"Ibu guru saya berapa?" Tanya Tresia, aku masih diam memikirkan pertanyaan ibu guru.

"Nanti saya bacakan hasil absen bulan lalu. Sekarang, ibu mau tanya Sisilia dulu." ibu guru belum mengangkat kepala, belum memalingkan tatapannya dari tumpukan buku kami.

"Sisilia, boleh duduk samping ibu guru? Yang lain lanjutkan membaca. Baca keras tidak papa, melatih mengucapkan dengan benar toh. Saling belajar teman sebangku tidak apa. Bergantian, saling mengoreksi yang lancar dan tidak."

Teman-temanku sibuk lagi, aku melangkah mendekat, ibu guru geser sedikit. Kali ini ibu guru menatapku tersenyum. Aku semakin gugup tapi sekejap aku mudah menjawab semua pertanyaannya.

Seperti biasanya, ibu guru hanya mampu menasehati kami, ibu guru bilang ia tidak memaksa kami untuk harus dan harus bersekolah, katanya masa depan kami hanya kami yang menentukan bukan ibu guru atau orang lain yang menyuruh ini dan itu. Hanya saja, saat menatapnya aku sadar ibu guru berharap padaku.

Ibu guru tak pernah mengatakan kami bodoh atau tak pintar. Ibu guru hanya bilang, semua anak di dunia ini pintar hanya yang membedakan seberapa dia punya kesempatan dan seberapa kuat usaha mereka untuk pintar. Tapi, aku? Di kelas akulah yang paling besar tapi membaca saja aku belum lancar. Sebenarnya aku malu dan selalu ingin sekolah. Keadaan memaksaku absen. Ku harap ibu guru memaklumi, aku janji untuk lebih rajin lagi. Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran.

***
Hari ini, ibu guru memujiku. Dia senang karena aku sudah bisa membaca, meskipun sesekali salah menyebut huruf j dengan y. Ah, ini kebiasaan kami anak-anak papua membuat sulit berubah. Bangganya aku punya ibu guru yang berbeda dari guru-guru di sini, ibu tak habis akal melatih kami menyebutka huruf dengan benar.

Aku dan teman-teman sekarang semakin rajin ke sekolah. Jika dulu kami akan masuk kelas tak tentu, kadang pukul 9 atau lewat, bahkan tak belajar sama sekali, selama lebih sebulan ini kami teratur masuk pukul 8. Bahkan teman-teman ada yang datang pukul 7.

Datang lebih pagi, menyapu dan merapikan kelas, berbaris sesuai kelas, dan saling mengingatkan dengan teman tentang kerapian pakaian dan kebersihan kuku menjadi hal biasa.

Kata ibu guru, dia senang. Aku tau itu, ibu guru memang sering senyum dan sekarang semakin sering.

***
Dari jauh ku perhatikan ibu guru yang duduk di ruang tamu di dekat jendela, di rumah tinggalnya dekat sekolah.

Apa ibu guru melamun? Tak seperti biasanya, tersenyum menatap ke arah sekolah. Hari ini, ibu guru sepertinya sedih.

Kami berlari memasuki ruangan, ibu guru datang dengan langkah lemasnya.

"Tidak ada bel dari tadi?"
Tanya ibu guru melewati pintu. Memang tak ada. Kami berdoa dan memberi salam pada ibu guru. Tapi suara ibu guru pelan, tak seperti biasanya.

Hari ini kelas damai tentram. Tak ada nyanyian, permainan, dan suara lantang ibu guru.

"Ibu guru, sakit?" Tanya temanku, Kelena.

"Tidak. Ibu hanya belum sarapan. Jadinya lemas. Seperti belajaran IPA kita kemarin kan? Kalau tidak makan tidak akan punya tenaga." Kami tau ibu guru berbohong, ibu guru ingin terus mengawasi kami belajar dan memastikan kami tak berlari-lari mainan di luar kelas.

Ibu guru menyuruh kami membaca apa saja semaunya, di halaman mana saja di buku bahasa, lalu bergantian menceritakan apa yang kami baca. Mekipun ada yang hanya membaca dua kalimat saja selama setengah jam, ibu guru tak protes apa lagi marah. Setelah pelajaran bahasa, kami belajar Matematika.

"Sudah selesai?"

"Sudah."

"Belum."

"Yang sudah kumpulkan!" Aku dan beberapa teman mengumpulkan buku. Yang lain menyusul setelah selesai.

"Ada yang mau maju duluan? Ibu tidak mau tunjuk-tunjuk." Aku mau maju tapi tak berani. Teman-temanku juga tak ada yang mau bergerak.

"Tidak ada yang mau? Ya sudah ambil kembali bukunya lalu kalian tak punya nilai. Mau?"

"Saya saja ibu guru." Irwan mengangkat tangan, setelahnya kami semua bergantian.

Payah. Aku tak hapal perkalian 7. Mengapa ibu guru malah senyum padaku? Aku jadi merasa bersalah.

***
"Selamat... Siang... Ibu... Guru... Nurmi."

"Siang. Selamat pulang dan hati-hati."

"Ibu guru hari ini tidak usah les ya?" Kata Paska. Kami sudah menyepati saat ibu guru tadi keluar kelas sebentar.

"Kenapa?"

"Ibu guru sakit. Jadi, boleh istirahat biar besok bisa mengajar kami lagi." Jawabku jujur.

"Tapi, ibu guru tidak papa. Masih kuat, ini masih bisa berdiri dan jalan."

"Ah, ibu guru. Tidak boleh, ibu guru sakit." Aku sedikit memaksa agar ibu guru setuju.

Semenjak ibu guru datang, baru kali ini aku melihat wajahnya pucat, lemas tak bersemangat. Kata teman-teman kasihan, dan kami sedih. Kami memaksa sepulang sekolah membantu menimbah air bersih untuk ibu guru.

Aku juga berkata pada ibu guru, aku tidak akan malas (bolos) ke sekolah lagi. Teman-teman juga.
---

Ungkapan :

Aduh, murid-muridku perhatian sekali. . . Gak nyangka sebenarnya kalau perkembangan sikap mereka cepat berubah. Tapi, aku suka mereka yang sekarang. Rajin, lebih sopan, rapi dan ingin belajar banyak hal, tidak pemalu lagi, tentunya memiliki kesadaran yang tinggi. He he he


---
FB Nurmie

Cita-citaku

Hasil karya siswa kelas lima, 20 Sep 2014. Kini cita-cita mereka banyak yang berubah.

#SM3T- Nurmiati, S. Pd



SD Inpres Isaima (Jayawijaya)
20 September 2014

"Cita-citaku"




----
Kemarin aku tidak masuk sekolah, kuharap ibu guru mengerti karena aku sempat menitipkan surat kepada Paska si ketua kelas kami. Meskipun aku tau ibu guru marah ataupun tidak tetap akan tersenyum, aku merasa dek-dekan hari ini. Alpaku sudah tiga, apa mungkin ibu guru menerima surat itu? Pagi ini ku lawan rasa raguku dan melangkah bersama teman memasuki ruang kelas.

Hari sabtu lalu kami disuruh membawa daun pisang kering, karena latihan upacara, akhurnya tidak digunakan. Meskipun latihan upacara itu penting dan pertama kalinya sejak sekolah kami dibangun, tetap saja aku kesal. Ah, aku sedikit kecewa, aku mengguntingnya lalu membuangnya meskipun ibu guru meminta maaf dan menyuruh kami menyimpannya baik-baik. Aku menyesal, ternyata ibu guru menemukan daun itu di dekat pagar sekolah dan kecewa, aku menyesal tapi tak tau bagaimana memberitahunya. Bahkan saat ibu guru sedikit membahas hal itu di hari senin, aku tak berani mengakui bahwa itu milikku.

Pagi ini minggu kedua kami, kelas 5 tak disuruh oleh bapak guru untuk membawa alat-alat kerja bakti seperti parang, sekop untuk kerja kebun. Senang rasanya jika lebih bersama ibu guru belajar sesuatu dari pada selalu kerja bakti lalu pulang.

Ibu guru sudah 20 hari berada di sini, Isaima. Oia, perkenalkan namaku Feras Walela, murid pindahan dari Wosi--tempatku tinggal. Aku sangat senang karena ibu guru mengajarkan kami banyak hal, meskipun aku termaksud anak yang kurang pintar serta lambat dalam belajar, ibu guru tak pernah memarahiku, jika ibu guru mulai bersuara sangat keras itu berarti beliau sedang menjalankan strategi agar kami berubah, aku dan teman-teman mulai paham akan hal itu. Aku akan belajar lebih keras lagi, berusaha lebih rajin lagi. 

Pagi ini, aku kembali membawa daun kering dan gunting. Kata ibu guru, perlengkapan lain akan beliau bawakan. Pagi ini teman-teman lengkap, 17 siswa denganku. Setelah berdoa, yel-yel, tepuk pramuka, lagu daerah, lagu nasional, kami mulai mengeluarkan bahan yang dibutuhkan.Kurasa aku hanya menggunakan pensil lalu mewarnainya, aku tak punya pulpen.

Saat akan menuliskan cita-citaku, aku dilema. Hari pertama ibu mengajar waktu itu aku menjawab, aku ingin menjadi bapak camat. Sekarang entah mengapa aku malah ingin menjadi seorang Polisi. Lama berpikir membuat ibu guru menyadari situasiku.

"Feras? Sudah selesai? Ibu guru boleh lihat?" Ibu guru yang semula berdiri di ujung meja dekat pintu memperhatikan pekerjaan Fina, kini berjalan santai ke arahku, jendela di dekatku membuat seluruh ruangan terlihat jelas. Aku menutup mulutku rapat-rapat bahkan mengigit bibirku dan mataku berkedip-kedip tak jelas, kata ibu guru waktu itu, aku sepertinya takut padanya padahal aku bukan takut tapi tidak percaya diri dan malu akan kemampuanku.

"Bagus. Kenapa harus ditutup Feras? Tidak mau ibu melihat?" Ibu guru bertanya lagi, kali ini dia berdiri tepat di depan mejaku. Aku bukan anak yang pemberani, bahkan aku langsung menunduk saat bertemu tatap dengan ibu guru. Dan, entah mengapa ibu guru senang sekali dengan mataku--katanya, aku senang tapi ada perasaan tak pantas yang mengangguku.

"Feras mau tulis Polisi, boleh tidak ibu guru?" Suara Paska di sebelahku semakin membungkamku, terima kasih ucapku dalam hati.

"Tentu saja boleh. Tidak ada yang melarang toh? Seperti yang kalian tau, ibu guru juga dulu tidak dari awal ingin menjadi seorang guru." Ibu guru tersenyum, suasana kelas lebih ramai dari sebelumnya. Gunting, pewarna, lem, kertas putih, daun kering, pulpen dan pensil ke sana sini. Kelas jadi banyak sampah kertas dan daun kering. Ku pikir nanti ibu guru akan menegur ternyata tidak.

"Sudah? Boleh kumpul jika sudah?" Ibu guru bertepuk dua kali untuk meperoleh perhatian sebelum berbicara.

"Belum..." Kata Teresia.

"Belum..." Sambung yang lain.

"Okey. Lima menit lagi ya!" Ibu guru sibuk berkeliling mendatangi meja-meja kami yang tersusun U. Sesekali ibu guru memberi saran dan bertanya tentang sesuatu pada kami. 

Aku menjadi murid ke 5 yang mengumpulkan. Pelan-pelan ku letakkan milikku di bagian paling bawah. Ibu guru tertawa, aku heran dan terdiam di depan mejanya hingga tawanya berhenti.

"Feras? Kenapa harus di taruh paling bawah?"

Aku tak tau kenapa aku harus menaruhnya dibawah padahal yang lain menyusun keatas sesuai urutan pengumpulan. Aku tak menjawab.

"Feras? Kenapa mau jadi Polisi?"

Aduh. Aku tak punya alasan yang jelas dan pasti, tapi ibu guru menanti jawaban dan mungkin aku tak akan segera duduk jika ibu tak mendapat jawaban.

"Karena mau jadi Polisi bu guru."

"Haha, iyo. Kenapa Polisi bukan dokter atau pilot atau yang lain kah?"

Bukannya menjawab, aku malah menoleh pada teman-temanku yang sibuk.

"Tidak tau bu guru." Daripada aku sibuk berpikir tapi tak menemukan alasan, aku menyerah saja.

"Tidak apa Feras. Silahkan duduk, maaf ya, ibu hanya ingin tau."

Aku kembali duduk, terdiam sebentar, ketika aku ingin mencuri kesempatan mencari jawaban dengan melihat ibu guru, ternyata ibu guru memperhatikanku. Ah, sial! Aku jadi salah tingkah, kenapa ibu malah tersenyum padaku. Aku tidak membalas senyum ibu guru, malah kembali berbaur dengan yang lain yang sibuk melumuri lem miliknya.

"1 2 3 ..." Ibu guru mulai berhitung. Hitungan ke 10 harus terkumpul semua, jika tidak ibu guru tidak akan menerima. Bagi ibu guru, menjadikan kelas ramai adalah hal menyenangkan, teman-temanku berlarian mengumpul.

Ibu guru menghitung jumlah lembaran di depannya. Pas. Ibu guru menyebutkan nama pemilik, satu persatu kami maju mengambil dan membacakan di depan. Nama dan cita-cita kami. Ah, kenapa harus menjelaskan alasan cita-cita kami, aku masih belum tau sampai detik ini aku berdiri lurus dengan ibu guru yang menanti jawabanku.

"Alasan aku ingin menjadi Polisi,"

"Feras boleh duduk."

Hah? Ibu guru tak ingin mendengarkan alasanku atau tak ingin membuatku malu dengan teman-temanku, atau justru ini rencana ibu guru menyuruhku maju paling akhir.

"Sepi sekali! Dua kali tepuk pramuka." Ibu guru mengalihkan suasana kelas setelah aku duduk kembali.

"Yel-yel" Perintah ibu guru lagi.

"Good Job... Good job.. Good job... GOOD JOB!" Suara tepuk tangan serta gerakan yel-yel dan teriakan semangat terdengar keras.

"Terima kasih. Kalian senang?"

"Senang..." Yah, itu jujur dari kami. Ini Sabtu pertama kami berada di dalam kelas.

"Ibu guru juga senang. Lebih senang jika suatu saat cita-cita kalian tercapai, ibu akan menjadi orang paling senang dan paling bersyukur pernah mengajar kalian." Ibu guru menarik napas pelan dan kembali berbicara.

"Kalian masih ingat tidak cerita ibu guru seminggu lalu saat pelajaran bebas? Lupa cerita tidak apa tapi jangan lupa pesannya ya!" 

Kami masih terdiam, aku paling suka jika ibu guru banyak bercerita, berbicara ini dan itu, aku seperti berada di tempat itu sedang mengalami hal itu. 

"Untuk berhasil kita harus apa?"

"Berusaha..." Serentak kami.

"Apa lagi?"

"Berdoa..."

"Apa lagi?"

"Belajar..."

"Belajar apa?"

"Semuanya..."

"Contohnya apa?"

"Disiplin... Sopan... Bersih..."

"Disiplin bagaimana?"

"Pagi-pagi kesekolah, baju masuk ke rok ibu guru, mengerjakan tugas, dan tidak ribut saat teman belajar."

"Haha, kalau sopan itu bagaimana?" Aku tidak mengerti kenapa ibu guru tertawa.

"Tidak melawan mama-bapak, ibu guru, bapak guru, dan berbica baik tidak berteriak." Jawab Irwan, entah mengapa aku diam saja.

"Nah, kalau bersih itu bagimana?"

"Mandi..." Serentak kami lagi.

"Mandi berapa kali?"

"2x ibu guru."

"Angka sebelas di bawah hidup adakah tidak?"

"Tidak ada. Baju harus cuci juga buguru."

"Iyo, betul itu Mepia. Kuku juga tidak panjang dan banyak tanah. Lalu apa lagi yang kita lakukan agar berhasil?"

"Jadi pintar bu guru." Hanya Makda yang menjawab.

"Betul? Yang lain setuju tidak?"

"Benar ibu guru."

"Feras? Biar pintar kita harus apa?"

"Belajar." Jawabku cepat, ibu guru terlihat senang.

"Cita-cita kalian akan tercapai. Ibu yakin. Tapi seperti yang sering ibu beritahukan pada kalian. Jangan pernah menyerah, terus belajar dan jadilah anak yang pintar. Belajar dan belajar. Kalau teman kalian bisa kenapa kalian tidak? Kalau mereka yang jauh di sana bisa jadi dokter, polisi, bapak bupati, dan kemana-mana melihat indahnya dunia, kenapa kalian tidak bisa? Iya toh?"

Kami diam. Sesungguhnya aku ingin berteriak 'iya ibu guru' tapi kutahan.

"Ibu ingin kalian nanti meneruskan ke SMP lalu ke SMA dan Kuliah. Mungkin kalian merasa ibu guru membosankan, mengajar kalian seperti mengajar anak kelas 3. Tapi, ibu tetap senang. Merasa tidak kalian sudah bisa membaca 30 kata permenit yang sebelumnya hanya 5 kata, kalian sudah bisa ini dan itu. Lumayan bisa mengerjakan matematika, sudah membedakan y dan j. Ibu senang sekali."

Aku masih merasa belum puas. Aku tau ibu guru berkata jujur, tapi aku masih belum bisa apa-apa dibandingkan temanku. 

"Ibu ingin kalian ingat satu hal lagi yang paling penting."

Kami duduk lebih tegap, pandang kami tertuju pada sosok yang berdiri di depan kami. Ibu guru menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan. Sepertinya ibu mulai memilih kata-kata yang akan beliau ucapkan agar mudah kami pahami.

"Apapun yang kalian kerjakan lakukanlah dengan senang dan atas kemauan kalian sendiri. Percuma ibu guru di sini, mengajar setiap hari, sampai menjadi sangat cerewet menyuruh ini menyuruh itu, percuma mama-bapak belikan buku dan suruh sekolah setiap hari jika bukan kemauan kalian. Kau datang setiap pagi, berdoa, duduk dan belajar seperti teman, lalu pulang. Begitu seterusnya. Tapi? Apa yang kalian dapatkan? Kalian ingat tidak apa yang kalian pelajari? Ibu yakin tidak."

Ibu guru terdiam. Kami juga, menanti kalimat ibu guru selanjutnya.

"Ibu hanya ingin satu lagi selain kalian selalu datang ke sekolah. Ibu guru ingin kalian belajar karena kalian senang, bukan karena disuruh Ibu guru, takut mama atau takut bapak guru. Ibu guru ingin kalian semua nanti besar menjadi orang lebih baik. Bisa kah?

Cita-cita kalian ini bukan hal yang mustahil, meskipun saat ini kalian belum bisa dikatakan pintar dengan perbandingan umur dan kemampuan kalian. Tapi, ibu guru yakin nantin Kelena akan menjadi Dokter, yang lain juga akan menjadi seperti yang diinginkan. 17 anak-anak ibu dalam kelas ini akan bertemu dengan ibu saat sudah berhasil, lalu bilang 'ibu guru, saya sudah jadi polisi', iyo kan Feras?"

Lagi-lagi aku tak bisa menjawab apa-apa, aku menerawang. Entah mengapa aku merasa sedih, yang terlintas di benakku keprgian ibu guru.

"Feras?"

"Iyo bu guru." Aku tersentak sehingga hanya mengiyakan padahal dalam diriku ada keraguan besar.

"Okey. Ibu guru sudah banyak sekali berbicara. Haus ini. Sekarang kalian boleh tanya. Sama ibu guru boleh, sama teman juga boleh. Kalau tidak ada yang tanya ibu guru yang tanya."

Aku. Aku mau. Tapi rasanya berat sekali mengangkat tangan apalagi membuka mulutku. Irwanlah yang mengangkat tangan dan bertanya.

"Ibu guru nanti harus pulang ya?"

"Memangnya kenapa Irwan tanya itu, tidak papa toh ibu guru pulang. Rumah ibu guru kan tidak di sini."

"Ibu guru boleh tidak saya ikut?" 

Pertanyaan Kelena membuat ibu guru terdiam. Aku juga sebenarnya ingin menanyakan hal yang sama.

"Ehem. Sebenarnya jika boleh dan bisa ibu kalian ikut dan belajar tentang banyak hal, ingin kalian belajar di tempat ibu. Tapi tidak bisa. Bagaimana dengan mama-bapak kalian?"

"Nanti saya bilang mama. Pasti boleh?"

"Jangan. Kalau ibu di suruh bayar denda bagaimana? Ibu tidak bisa."

"Ah, tidak."

"Tapi, tetap saja tidak bisa membawa kalian atau Kelena. Kita berbeda agama. Di tempat ibu guru tidak ada gereja, dan di desa ibu tidak ada yang mengajarkan kalian agama."

Kurasa ibu guru tidak ingin kami ikut dengannya. Kelena terlihat kecewa.

"Ibu guru. Kalau saya sudah lulus SMA boleh ke tempat ibu guru?"

"Boleh, Feras. Makanya dari sekarang kalian rajin belajar ya. Tidak boleh malas sekolah, nanti alpanya banyak tidak naik kelas. Mau nanti umur makin tua lalu badan makin besar tapi satu kelas dengan anak-anak di kelas 4 yang sekarang."

"Tidakkk..." Teman-temanku kini semua bersuara lagi.

Hari ini, ibu guru dan kami hanya fokus mengenai cita-cita. Pelajaran yang ku suka, kelas bebas dan kelas hari ini. Di mana ibu banyak bercerita, kami bisa belajar tidak menggunakan buku. Kami bisa lebih merasa santai dan lebih ramai.

***

Cita-citaku menjadi Polisi. Ibu guru pernah bertanya padaku tentang orang Papua, bertanya benarkah kami tidak menyukai Polisi. Saat itu ku jawab mama-bapakku memang begitu, tapi aku ingin menjadi Polisi. 

Ibu guru pernah bilang pada kami, memang orang satu dan yang lain tidak sama maka kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan, tapi kita belajar agar bisa membedakan yang baik dan tidak. Awal mula ibu berbicara begitu karena aku dan Irwan saling pukul lengan, kami bertengkar karena hal sepele, ibu guru tidak tau, aku dan Irwan bertengkar dan saling mengatai dalam bahasa ibu.

Ibu guru bilang jangan pernah lupakan pelajaran kewarganegaraan yang beliau ajarkan. Tentang negara kita, Indonesia. Lagu kebangsaan, semboyan, dan hal lain yang sangat penting kita pahami sehingga membuat kita lebih beradap. 

Hal yang membuatku bingung tentang ibu guru. Saat dulu Kelena bertanya tentang cita-cita beliau, ibu guru menjawabnya dengan 'menjadi bermanfaat', aku tau sedikit saja tentang maksudnya karena ibu guru memberikan contoh. Saat ini terlalu banyak contoh yang tercatat dalam ingatan dan yang kulihat sendiri, tapi yang seperti apa yang ibu guru inginkan aku tak tau. 20 hari lalu, saat kata cita-cita ibu guru kenalkan padaku, ku kira cita-cita hanya terpatok pada kesuksesan yang dapat diukur seperti sudah menjadi guru atau sudah menjadi camat sesuai keinginan. Ternyata tidak. 

Ketika tadi Kelena betanya lagi pada ibu guru, aku semakin bingung. Ibu guru ternyata tidak tau seperti apa cita-cita sebenarnya, ibu guru menganggap harapannya cita-citanya. Lakukan saja yang terbaik maka akan terwujud apa yang diinginkan. Kalau itu aku mengerti, karena ibu guru selalu bilang 'belajar lagi ya Feras, nanti juga bisa.' padahal jawabanku tak ada yang benar dan hapalanku itu-itu saja.

"Ibu guru?"

"Ah, Wae?"

"Tidak jadi."

"Wae Feras?"

"Saya mau ganti cita-cita boleh?"

"Ha ha ha." Ibu guru dan teman-temanku tertawa. Aku mengunci mulut, mereka menertawakan padahal aku serius.

"Ehem..." Mendengar teguran ibu guru, semua temanku kembali diam.

"Memangnya mau jadi apa lagi Feras?"

"Cita-citaku, mau bertemu ibu guru lagi kalau sudah pulang." Aku mengucapkannya pelan. Aku tak yakin ibu guru mendengarkan dengan betul karena beliau hanya terdiam kini. Teman-temanku menatapku heran.

"Feras? Boleh tapi itu cita-cita nomor 2 yo! Hehe"

Aku menggaruk kepalaku bagian belakang. Lalu membalas senyum ibu guru.

---

Wae : Apa? (Bahasa daerah)